Senin, 12 November 2018

Manajemen Pembenihan Ikan Papuyu

Ikan papuyu. Mungkin tidak semua orang yang mengenalnya. Karena tidak di setiap daerah bisa ditemukan, atau hanya dtemukan di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan. Di sana, ikan yang mirip dengan ikan gabus ini menjadi primadona, karena rasanya yang lezat dan sering dihidangkan dalam upacara adat oleh Suku Banjar.

Namun sayang, ikan yang bernama latin Anabas testudneus ini populasinya semakin berkurang, akibat penangkapan yang tidak selektif dan adanya penduduk yang menangkap dengan bahan peledak. Karena populasinya semakin berkurang, maka usaha budidaya mulai dikembangkan. Salah satu institusi yang telah berhasil adalah Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Mandiangin

 

A.    Biologi Ikan Papuyu

1.      Klasifikasi

Ikan Papuyu sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat Indonesia dibeberapa daerah. Dalam bahasa-bahasa daerah ikan ini juga dinamakan ikan Betik (Jawa dan Sunda), Papuyu (Kalimantan Selatan), Puyu (Malaya dan Kalimantan Timur), Puyu-puyu (Padang), Puyo-puyo (Bintan), geteh-geteh (Manado), dan kusang (Danau Matanua). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gouramy atau climbing perch, merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan. Nama ilmiahnya adalah Anabas testudineus (Bloch, 1792dalam Saifuddin, 2010).

           Gambar Ikan Papuyu

 

Menurut Saanin (1984)dalam Saifuddin (2010), Ikan Papuyu diklasifikasikan sebagai berikut :

Phylum                        : Chordata

Sub Phylum                : Vertebrata

Kelas                          : Pisces

Sub KelaS                 : Teleostei

Ordo                            : Labyrinthici

Famili                          : Anabantidae

Genus                         : Anabas

Species                       : Anabas testudineus Bloch

 

2.      Morfologi

Menurut Djuhanda (1981), tanda-tanda utama ikan Papuyu adalah bentuk lonjong lebih ke belakang pipih. Kepala besar dan mulut tidak dapat disembulkan. Semua badan kepalanya bersisik kasar dan besar-besar. Jari-jari keras dari sirip perut dapat digerakan untuk berjalan pada permukaan lumpur yang kering. Badan berwarna coklat agak hitam kehiaju-hijauan . Ikan ini umumnya berukuran kecil, panjang hingga sekitar 25 cm, namun kebanyakan lebih kecil. Berkepala besar dan bersisik keras kaku. Sisi atas tubuh (dorsal) gelap kehitaman agak kecoklatan atau kehijauan. Sisi samping (lateral) kekuningan, terutama di sebelah bawah, dengan garis-garis gelap melintang yang samar dan tak beraturan. Sebuah bintik hitam (terkadang tak jelas kelihatan) terdapat di ujung belakang tutup insang. Sisi belakang tutup insang bergerigi tajam seperti duri.

 

3.      Daerah Penyebaran

Ikan ini menyebar luas, mulai dari India, Cina hingga Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara di sebelah barat Garis Wallace Daerah penyebaran ikan Papuyu di Indonesia meliputi Sumatera, Nias, Bintan, Sulawesi, Bangka, Sumbawa, Pati, Ambon, Jawa, Bacau, Halmahera, Kalimantan, dan Madura.

 

4.      Kebiasaan/Behaviour

Dalam keadaan normal, sebagaimana ikan umumnya, betok bernafas dalam air dengan insang. Akan tetapi seperti ikan gabus dan lele, betok juga memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan ini memiliki organ labirin (labyrinth organ) di kepalanya, yang memungkinkan hal itu. Alat ini sangat berguna manakala ikan mengalami kekeringan dan harus berpindah ke tempat lain yang masih berair. Betok mampu merayap naik dan berjalan di daratan dengan menggunakan tutup insang yang dapat dimegarkan, dan berlaku sebagai semacam ‘kaki depan’. Namun tentu saja ikan ini tidak dapat terlalu lama bertahan di daratan, dan harus mendapatkan air dalam beberapa jam atau ia akan mati.

 

5.      Habitat

Ikan Papuyu ditemukan di rawa-rawa, sawah, sungai kecil dan parit-parit, juga pada kolam-kolam yang mendapatkan air banjir atau berhubungan dengan saluran air terbuka. Ikan Papuyu dapat tumbuh normal pada perairan dengan kisaran pH antara 4 – 8. Ikan Papuyu tahan terhadap kekeringan dan terkadang kuat hidup sampai satu minggu tanpa air atau tinggal dalam lumpur sedikit berair selama 1 – 2 bulan.

 

6.      Makanan

Ikan Papuyu adalah golongan ikan pemakan segala (omnivora), oleh karena itu mudah diberikan makanan tambahan atau buatan.Menurut Mudjiman (1985), jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ikan secara umum berkisar antara 3 – 6 % dari total berat ikan. Namun jumlah makanan itu dapat berubah-ubah tergantung pada suhu lingkungannya. Ikan ini memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil.

 

7.      Pertumbuhan

Arifin (1991), menyatakan bahwa pertumbuhan dapat dikatakan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat didalam waktu tertentu. Pertambahan ukuran ini karena adanya proses hayati yang terus menerus terjadi didalam tubuh organisme. Kecepatan pertumbuhan sangat tergantung kepada jumlah makanan yang diberikan, ruang, suhu, kedalaman air, kandungan oksigen dalam air, dan parameter kualitas air lainnya. Makanan yang didapat oleh ikan terutama di manfaatkan untuk pergerakan, memulihkan organ tubuh yang rusak, setelah itu kelebihan makanan yang didapatkan digunakan untuk pertumbuhan (Asmawi, 1986). Pertumbuhan ikan Papuyu di alam dapat mencapai ukuran >200 gram per ekor dalam 1 tahun, sedangkan pertumbuhan dalam lingkungan budidaya (kolam, fishpen/jaring tancap) mencapai kisaran 70 - 100 gram per ekor selama 1 tahun.

 

8.      Reproduksi

Ikan Papuyu berkembangbiak dengan cara induk betina mengeluarkan telur yang dibuahi induk jantan dengan mengeluarkan sperma. Pembuahan terjadi diluar dengan cara tubuh induk jantan menjepit tubuh induk betina sambil mengeluarkan telur dan sperma.

 

9.      Telur

Telur ikan Papuyu berbentuk bulat berwarna bening kekuningan dengan sifat mengapung di air. 1 ekor induk papuyu dapat memproduksi telur sebanyak 13.000 – 15.000 tergantung berat dari ikan tersebut.

 

10.  Larva

Larva ikan Papuyu berukuran panjang < 1 mm berwarna bening dengan bintik mata hitam. Pada umur 1 hari larva akan diam mengapung di permukaan air atau menempel pada substrat, setelah umur 1 hari larva mulai berenang aktif.

 

B.     Budidaya Ikan Papuyu

1.      Beda jantan dan betina

Jantan dan betina ikan papuyu dapat dibedakan dari tanda tubuhnya. Tanda induk betina : tubuh memanjang; warna agak kusam; perut agak gendut, gerakan lamban, lubang kelamin membulat dan berukuran 100 gram. Tanda induk jantan : tubuh membulat; warna cerah; gerakan lincah, lubang kelamin memanjang, dan berukuran antara 100 gram.

 

2.      Pemijahan

Pemijahan ikan papuyu dilakukan secara semi buatan, induced spawning. Caranya, siapkan akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 50 cm dan tinggi 45 cm; keringkan selama 3 hari; isi air setinggi 30 cm; hidupkan dua titik aerasi dan biarkan hidup selama pemijahan; suntik 2 ekor induk betina sore hari dengan ovaprim dosis 0,5 ml/kg dan masukan ke dalam akuarium; suntik 8 ekor induk jantan dan satukan dengan induk betina; biarkan memijah. Perbandingan antara jantan dan betina 4 : 1. Pemijahan akan terjadi pada tengah malam hingga pagi hari dan telur-telur akan menempel pada dinding akuarium.Menurut Utomo, et al (2001) dalam Komang Ni Suryati (2010) fekunditas individu ikan betik yang berukuran panjang total 18 cm sebanyak 17.235 butir telur.

 

3.      Penetasan dan pemeliharaan larva

Penetasan dilakukan dalam akuarium pemijahan. Yaitu dengan menangkap induk-induk yang telah memijah, kemudian dipindahkan ke kolam pematangan gonad. Dalam suhu 29 – 30oC, telur akan menetas antara 20 – 24 jam. Larva tersebut dipelihara selama 3 hari hingga kuat untuk berenang. Selama di akuarium itu diberi pakan tambahan berupa naupli artemia secukupnya atau secara adlibitum. Setiap ekor induk betina bisa menghasilkan larva sebanyak 13.500 ekor.

 

4.      Pendederan I

Pendederan I dilakukan dalam hapa yang dipasang di kolam. Caranya, siapkan sebuah kolam berukuran 200 m2, keringkan selama 4 – 6 hari; isi air setinggi 40 – 60 cm; tebarkan 4 karung kotoran ayam atau puyuh dan biarkan selama 4 – 5 hari; pasang 4 – 10 buah hapa ukuran panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 80 cm dengan tiang-tiang bambu; masukan 2.000 ekor larva; beri pakan tambahan berupa pelet halus. Pemeliharaan ini dilakukan selama seminggu. Pada saat itu, larva sudah berukuran 0,5 cm.

 

5.      Pendederan II dan III

Pendederan II dilakukan di kolam. Caranya, siapkan sebuah kolam berukuran 200 m2, keringkan selama 4 – 6 hari; isi air setinggi 40 – 60 cm; tebarkan 4 karung kotoran ayam atau puyuh dan biarkan selama 4 – 5 hari; tebar benih yang berasal dari tempat pendederan I (hapa) dengan kepadatan 200 – 300 ekor/m2; beri pakan tambahan berupa pelet halus sebanyak 500 gram/hari diawal pemeliharaan, 750 gram pada minggu kedua, 1000 gram (1 kg) pada minggu ketiga atau sesuai dengan kebutuhan. Pendederan II berlangsung selama 30 hari. Pada saat itu, benih papuyu sudah mencapai 1 – 3 cm. Pendederan III dilakukan di kolam lain dengan perlakuan sama dengan pendederan II. Pendederan ini dilakukan selama sebulan dan benih sudah mencapai ukuran 3 – 5 cm.

 

6.      Pembesaran

Pembesaran dilakukan di kolam. Caranya, siapkan sebuah kolam berukuran 500 m2, keringkan selama 4 – 6 hari; isi air setinggi 40 – 60 cm; tebarkan 6 karung kotoran ayam atau puyuh dan biarkan selama 4 – 5 hari; tebar benih yang berasal dari tempat pendederan II dengan kepadatan 50 ekor/m2; beri pakan tambahan berupa pelet butiran sebanyak 5 persen/hari. Pembesaran berlangsung selama 6 bulan. Saat itu, ikan papuyu sudah mencapai berat antara 60 – 75 gram.

 

7.      Pembesaran di jaring tancap

Pembesaran papuyu bisa juga dilakukan dalam jaring tancap. Caranya, pilih lokasi di pinggir perairan yang memiliki kedalaman 1 – 1,5 m; siapkan sejumlah jaring berukuran panjang 4 m, lebar 3 m dan 1 m dengan mess 0,5 cm; pasang jaring dengan mengikatkan pada tiang-tiang yang tahan air, seprti kayu ulin; tebarkan benih papuyu yang berasal dari pendederan III dengan kepadatan50 – 100 ekor/m2; beri pakan tambahan berupa pelet sebanyak 5 persen/hari dengan frekwensi pemberian 4 kali. Pembesaran di jaring tancap berlangsung selama 6 bula. Pada saat itu, ikan papuyu sudah berukuran 65 – 75 gram.



DAFTAR PUSTAKA

Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin. 2007. Budidaya Ikan Papuyu (terapan). Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan.

Komang Ni Suryati. 2010. Ikan Betok (Anabas testudineus). Balai Riset Perikanan Perairan Umum. Palembang

Saifuddin. 2010. http://s-fd.blogspot.com/2010/01/biologi-ikan-papuyu.html. Diakses Pada tanggal 5 Oktober 2010, pukul 20.00

Jumat, 09 November 2018

PEMBENIHAN IKAN PAPUYU DAN PEMELIHARAAN LARVANYA


PEMBENIHAN IKAN PAPUYU


Sisternatika ikan papuyu menurut Hasanudin Saanin (1984), adalah sebagai berikut :

1. Klasifikasi
Phylum             : Chordata
Sub phylumm    : Vertebrata
Kelas                : Pisces
Sub kelas          : Teleostei
Ordo                 : Labyrinthici
Family              : Anabantidae
Genus               : Anabas
Spesies            : Anabas testudeneus Bloch
Beberapa nama daerah ikan papuyu yaitu betik (Jawa dan Sunda), puyu (Malaya), puyo‑puyo (Bintan), Geteh‑geteh (Manado) dan Kusang (Danau Matanua).


2.  Morfologi
Secara morfologis bentuk tubuh ikan papuyu agak lonjong dan menjadi pipih kebagian belakang, ukuran kepala lebih besar dari badan dan mulutnya tidak dapat disembulkan sebagaimana ikan mas. Semua bagian badan dan kepala bersisik kasar dan besar‑besar dengan warna 

agak kehijauan. Sirip ekor bentuknya bulat, jari‑jari keras dan sirip perut serta kelopak insang dapat digerakkan dan dapat digunakan untuk bergerak (berjalan) dipermukaan tanah. Beratnya di alam dapat mencapai 250 gram per ekor.
Ikan papuyu banyak ditemui di perairan umum seperti danau, sungai, rawa dan genangan air tawar lainnya. Daerah penyebarannya meliputi Kalimantan, Sumatera, lawa, Sulawesi dan Papua. Dialamnya ikan papuyu tumbuh normal pada kisaran kualitas air untuk suhu 240C ‑340C dan derajat keasaman (pH) 4 ‑ 8. Ikan papuyu tahan terhadap kekeringan dan kadar oksigen yang rendah. Biasanya tahan hidup selama 1 minggu tanpa air dan tinggal dalam lumpur selama 1 ‑ 2 bulan.

3.  Pematangan Gonad
Induk ikan papuyu yang sudah dewasa bisa dipelihara dalam kolam semi permanen, maupun bak fiber/semen dengan ke dalaman air antara 50 ‑ 80 cm. Dinding pematang diusahakan tidak terlalu miring dan tinggi permukaan air kolam dengan pematang tidak kurang dari 50 cm. Hal ini untuk menghindari ikan papuyu keluar kolam dengan cara memanjat dinding pematang.

Ikan papuyu yang dijadikan induk minimal mempunyai berat 90 gram untuk betina dan 30 gram untuk jantan, tubuh segar, tidak cacat serta gerakannya lincah. Umur induk yang baik minimal 10 bulan. Selama masa pematangan gonad diberi pakan pelet sebanyak 5 % perhari dengan frekuensi pemberian 2 kali pada pagi dan sore hari.



4.  Seleksi Induk
Seleksi induk dilakukan dengan cara mengeringkan kolam pemeliharaan induk, kemudian dilakukan penangkapan induk secara hati‑hati menggunakan serok agar tidak terluka.
Induk yang tertangkap dikumpulkan dan ditampung dalam baskom untuk diadakan seleksi. Apabila di dapatkan induk yang matang gonad, segera dipisahkan dalam wadah khusus berupa bak semen atau fiber untuk diberok selama 1 hari. Adapun ciri‑ciri induk papuyu yang matang gonad :
Betina :
·                     Tubuh gemuk dan lebar
·                     Warna agak gelap bila dibandingkan dengan jantan
·                     Alat kelamin / urogenitainya berwama kemerah‑merahan
·                     Bila bagian perut diurut akan keluar telur.




Jantan :
·                     Tubuh ramping dan panjang
·                     Warna lebih cerah bila dibandingkan dengan betina.
·                     Bila bagian perut diurut akan keluar sperma berwarna putih susu.
·                     Perut bagian bawah rata


Ikan papuyu memijah sepanjang musim penghujan dengan frekunsi 2 ‑ 3 kali memijah dengan jumlah telur (fekunditas) antara 5.000 ‑ 15.000 butir.
Pemijahan dilakukan dengan cara induced breeding (kawin suntik) menggunakan horman ovaprim sebagai perangsang ovulasi. Dosis hormon 0,5 ml/kg induk dengan perbandingan induk jantan dan betina dalam ukuran berat yaitu   1 : 1. Pemijahan dapat dilakukan di akuarium,
baskom plastik atau bak fiber/semen.




Penyuntikan dilakukan secara intramuscular pada bagian punggung. Induk betina dilakukan 2 kali penyuntikan dan induk jantan hanya 1 kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I dan penyuntikan II adalah 6 jam.
Penyuntikan induk jantan bersamaan waktunya dengan penyuntikan II pada induk betina. Setelah dilakukan penyuntikan, kedua induk di tempatkan dalam satu wadah sampai terjadi ovulasi dan pemijahan secara alami.



Setelah terjadi proses pemijahan segera pindahkan kedua induk ke tempat lain agar tidak mengganggu proses penetasan telur dan pemeliharaan larva. Waktu ovulasi antara 5 ‑ 10 jam setelah penyuntikan II induk betina, dalam waktu 20 ‑ 24 jam telur akan menetas pada suhu 260C ‑ 290 C.

5.  Pemeliharaan Larva
Pada kondisi normal prosentasi telur yang dibuahi biasanya mencapai 95% dengan daya tetas juga 95%. Larva yang baru menetas tidak perlu diberi makanan tambahan sebab masih mempunyai ca­kang
dangan makanan dari kantong kuning telur (yolk egg) sampai larva berumur 4 hari.
Pada hari ke 5 larva sudah bisa dipelihara dikolam pendederan dan diberi makanan tambahan berupa suspensi kuning telur. Pendederan larva dilakukan di kolam semi permanen dimana sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan. Selain dilakukan penjemuran kolam dilakukan pengapuran dengan dosis 250 gr‑am/m2 dan di pupuk dengan pupuk kandang dengan dosis 500 gram/m2. Setelah itu kolam diisi air dan dibiarkan selama 3 hari untuk menumbuhkan pakan alami. Pendederan sebaiknya dilakukan sebanyak 2 kali, pendederan I dilakukan selama 45 hari dengan padat tebar 50 ekor/m2. Selama pendederan I benih ikan papuyu diberi pakan tambahan berupa pelet ukuran kecell (powder) sebanyak 10 ‑ 20% dari bobot biomassa perhari dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari. Selama 45 hari pemeliharaan, benih akan mencapai ukuran 1 ‑ 3 cm dan bisa dillanjutkan untuk pendederan II. Masa pemeliharaan pada pendederan II antara 3 ‑ 4 bulan hingga mencapai ukuran 7 ‑ 10 cm. Selama pendederan II diberi makan pelet sebanyak 5% dari bobot biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Setelah pendederan II ini selanjutnya benih tersebut bisa dipersiapkan sebagai calon induk atau untuk usaha pembesaran.

Sumber: Balai Benih Ikan  ( BBI ) Sei Batang  Alamat : Jl. Garuda No 5  RT XVI Kuala Kapuas Kalimatan  Tengah 


Senin, 05 November 2018

Teknik Pembenihan Ikan Papuyu


PENDAHULUAN
Ikan Papuyu merupakan ikan lokal air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari oleh masyarakat Kalimantan terutama masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi belum banyak dibudidayakan. Untuk itu diperlukan usaha pembenihan guna kontinuitas suplai benih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitasnva.
Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan di alam yang pada akhirnya dapat menunjang kegiatan usaha pembesaran dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan produksi budidayanya. Juga turut serta dalam upaya pelestarian plasma nuftah pada umumnya dan khususnya ikan Papuyu.
BIOLOGI IKAN PAPUYU

Sistematika menurut Hasannudin Saanin (1984) sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labytinthichi
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch
Nama Daerah : Betik Jawa dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).
Nama Umum : Walking Fish atau Climbing Perch.
PEMBENIHAN
Tahapan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi seleksi induk. pemijahan. penetasan telur dan pemeliharan larva.
1. Seleksi Induk
a. Ciri-ciri induk jantan dan betina

Betina :
Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
Warna badan agak gelap,
Sirip punggung lebih pendek,
Bagian bawah perut agak melengkung,
Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,
Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.
Jantan :
Tubuh ramping dan panjang,
Warna badan agak cerah,
Sirip punggung lebih panjang,
Bagian bawah perut rata,
Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.
b. Beberapa persyaratan induk
Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30 gram,
Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah,
Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
Umur induk lebih dari 10 bulan,
Pertumbuhannya cepat.
2. Pemijahan
a. Bahan dan alat
Induk ikan papuyu yang matang gonad
Ovaprim
Aquabidest
Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
Alat suntik
Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
Baskom, serok senter dan timbangan
b. Perlakuan
PENDAHULUAN
Ikan Papuyu merupakan ikan lokal air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan digemari oleh masyarakat Kalimantan terutama masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi belum banyak dibudidayakan. Untuk itu diperlukan usaha pembenihan guna kontinuitas suplai benih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitasnva.
Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih dalam jumlah besar, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan di alam yang pada akhirnya dapat menunjang kegiatan usaha pembesaran dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan produksi budidayanya. Juga turut serta dalam upaya pelestarian plasma nuftah pada umumnya dan khususnya ikan Papuyu.
BIOLOGI IKAN PAPUYU

Sistematika menurut Hasannudin Saanin (1984) sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labytinthichi
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch
Nama Daerah : Betik Jawa dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).
Nama Umum : Walking Fish atau Climbing Perch.
PEMBENIHAN
Tahapan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi seleksi induk. pemijahan. penetasan telur dan pemeliharan larva.
1. Seleksi Induk
a. Ciri-ciri induk jantan dan betina

Betina :
Tubuh gemuk dan lebar kesamping,
Warna badan agak gelap,
Sirip punggung lebih pendek,
Bagian bawah perut agak melengkung,
Jika matang gonad pada bagian perut diurut akan keluar telur,
Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.
Jantan :
Tubuh ramping dan panjang,
Warna badan agak cerah,
Sirip punggung lebih panjang,
Bagian bawah perut rata,
Jika perut diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih susu.
b. Beberapa persyaratan induk
Ukuran induk betina yang ideal diatas 90 gram dan jantan diatas 30 gram,
Badan terlihat segar (tidak cacat) dan gerakannva lincah,
Mampu menghasilkan telur dalam jumlah cukup banyak,
Umur induk lebih dari 10 bulan,
Pertumbuhannya cepat.
2. Pemijahan
a. Bahan dan alat
Induk ikan papuyu yang matang gonad
Ovaprim
Aquabidest
Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
Alat suntik
Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
Baskom, serok senter dan timbangan
b. Perlakuan
Ikan Papuyu memijah sepanjang musim penghujan, pada saat musimnya mampu memijah 2 – 3 kali dengan jumlah telur (fekunditas) 5.000 – 15.000 butir. Pemijahan dilakukan dengan induced breeding (kawin suntik) menggunakan hormon ovaprim, dosis penyuntikan 0,5 cc/kg induk. Perbandingan 1: 1 (dalam berat). Pemijahan dapat dilakukan di akuarium atau fibre glass. Penyuntikan secara intramuscular pada otot punggung induk. Induk betina 2 kali penyuntikan dan induk jantan 1 kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I ke penyuntikan II adalah 6 jam. Penyuntikan induk jantan bersamaan pada saat penyuntikan II induk betina. Proses terjadinya ovulasi tanpa dilakukan stripping (pemijahan secara alami).

3. Penetasan Telur
Setelah penyuntikan II induk betina, maka ovulasi akan terjadi 5 jam berikutnya. Telur akan menetas dalam waktu 20 – 24 jam pada suhu 260C atau akan menetas dalam waktu 12 jam pada suhu 300C. Prosentase dari telur yang dibuahi sekitar 95% dengan daya tetas (HR) 95%. Penetasan telur bisa langsung di akuarium atau langsung ke tempat Pendederan I jika sudah siap.
4. Pemeliharaan Larva
Larva yang baru menetas tidak perlu diberi makanan tambahan sebab masih mempunyal cadangan makanan dari kantong kuning telur (yolk egg).Setelah larva berumur 4 hari diberi makanan tambahan berupa suspense kuning telur. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) selama 10 hari. Setelah itu bisa diberikan makanan pellet yang dihaluskan. Masa kritis larva terjadi pada saat hari ke-7 sampai hari ke-14. Pendederan larva dilakukan di kolam semi permanen, dimana kolam tersebut terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan dengan diberi dosis pupuk dan kapur sesuai anjuran.
Pemeliharaan ini selama 45 hari dengan padat tebar 50 ekor/m . Selama masa pemeliharaan 45 hari benih ikan diberi pakan tambahan berupa pellet yang dihancurkan sebanyak 10 – 20% per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari. Umur 45 hari sudah mencapai benih ukuran 1 – 3 cm, dan benih bisa dipanen untuk di tebar ke kolam pendederan berikutnya.

Pustaka:
https://iswadi37.wordpress.com/2008/04/28/teknik-pembenihan-ikan-papuyu-anabas-testudineus-bloch/